RAJAPOKER88.COM AGEN TEXAS POKER DAN DOMINO ONLINE INDONESIA TERPERCAYA Iklanbarismedan.com » Balita Meninggal di Rumah Sakit Advent Medan
/ berita / Balita Meninggal di Rumah Sakit Advent Medan

Balita Meninggal di Rumah Sakit Advent Medan

senangpoker on December 18, 2014 - 2:14 pm in berita

 

 

Zahra Aijah

Seorang ayi mungil berusia 2 tahun bulan bernama Zahra Aijah, meninggal dunia di Rumah Sakit Advent di kota Medan, Jalan Gatot Subroto, Medan Petisah. Dia diduga menjadi korban mal praktek yang terjadi di rumah sakit itu, karena penyakit Typus yang dideritanya menjadi jalan takdir untuk menghadap Sang Pencipta.

Informasi yang di dapat dari tim iklanbarismedan, awalnya anak pasangan Muhammad Rozi (42 tahun) dan istrinya yang bernama Rodiani alias Ani (38 tahun) yang beralamat di Jalan Kapten Muslim Gang Pertama, lorong Mulia, Kelurahan Sei Sekambing C, Kecamatan Medan Helvetia, mengira anaknya mengalami demam biasa saja. Oleh kedua orang tuanya, Zahra dibawa ke klinik Mariani, yang tidak jauh dari rumahnya untuk diobati.

Mendapat perawatan, pihak klinik mengatakan korban mengalami demam panas. Apabila panasnya kembali, segera dibawa ke klinik itu lagi. Benar saja ketika Zahra kembali mengalami demam panas, batuk, sakit perut dan korban pun dibawa ke klinik tersebut untuk diperiksa kembali.  Namun karena peralatan medis kurang lengkap, kemudian, korban dibawa ke RS Bunda Thamrin. Disini korban divonis mengalami penyakit Typus. Lantas, karena ketiadaan biaya, selanjutnya korban dibawa ke RS Advent pada Selasa (10 Desember) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Anak saya dirawat di ruang UGD. Dalam kondisi lemah dan dibawa ke ruang rawat inap lantai I, ruang Cempaka 2,” kata M Rozi, Jumat (12/12) jam 19.00 wib. Selama dalam masa perawatan, korban ditangani oleh seorang dokter yang bernama Ramli Sinuhaji. Hari pertama dirawat kondisi korban semakin parah. Dimana korban diinfus dan selanjutnya pihak perawat dari bagian Radiologi mengambil sampel darahnya lebih lanjut.

Namun pada saat pengambilan sampel darah korban, diduga perawat kurang memahami dalam pemasangan jarum suntik untuk mengambil darah korban. maka oleh Perawat di rumah sakit diduga mengobok-obok jarum tersebut di tangan korban sehingga terjadi pembengkakan di lengan kiri anak perempuan itu.

“Yang mengambil darah anakku itu perawat rumah sakit dari Radiologi. Orang itu kesusahan waktu mengambil darahnya, jarumnya itu diputar dari atas ke bawah dengan berulang kali. Tapi kalau memang enggak bisa kenapa dipaksa, disitu yang herannya saya ketika melihat cara kerja suster tersebut,” ujarnya sedih sembari meneteskan air mata dan menyesali perbuatan suster tersebut.

Masih diceritakannya kepada tim iklanbarismedan, setelah pengambilan darah tersebut, pada malamnya, tangan kiri korban membiru dan terjadi pembengkakan. Saat itu ibu korban, Rodiani menanyakan kepada dokter mengenai hal itu. Tapi, dr Ramli menjamin bahwasanya hal itu adalah proses atau efek dari pengambilan darah itu. “Oleh dokter Ramli menjamin pihaknya akan bertanggungjawab penuh atas pembengkakan itu,” kata Rodiani.

IDRPOKER.COM AGEN TEXAS POKER DAN DOMINO ONLINE INDONESIA TERPERCAYA

Hingga hari kedua mendapat perawatan di rumah sakit tersebut, kondisi korban semakin kritis dan gawat. Melihat semakin turunnya kesehatan korban, pihak rumah sakit malah buang badan. Dengan alasan agar mendapat peralatan lengkap, sebaiknya korban dibawa ke RS Colombia.  “Kami disuruh membawa ke Columbia. Alasannya, biar peralatan lebih lengkap,” ujarnya lagi.

Mendapat pernyataan itu, ayah korban, M Rozi meminta agar putrinya dimasukkan ke ruang ICU. “Tapi, pihak RS Advent menolaknya. Tidak tahu apa alasannya,” kata Rozi. Tetap memaksa agar anaknya dirawat di ICU, tidak membuat pihak RS untuk bertindak. Pasien yang sudah cukup kritis itu tetap dibiarkan sajaterbaring lemah di atas ranjangnya.  “Perawat seakan cuek dan tidak perhatian serta mengatakan mereka tidak berani bertindak menangani pasien sebelum dokter datang untuk memeriksa,” ujar Rozi lagi.

Sejak itu pihak keluarga korban hanya bisa pasrah menunggu. orang tua korban selalu  memperhatikan kondisi anaknya semakin parah dengan napas satu-satu, tak lama akhirnya korban meninggal dunia akibat penyakit Typus.  Walaupun sudah meninggal, tidak ada satupun pihak rumah sakit berada di lokasi hingga sempat terjadi keributan oleh pihak keluarga dan protes keras atas penelantaran terhadap anak mereka yang telahmeregang nyawa di kamar Cempaka 2. Hingga akhirnya, pihak keluarga membawa korban ke rumah duka, itupun setelah pihak keluarga memohon kepada pihak rumah sakit untuk mengurus kematian putri tercinta mereka.

Bener-benar tragis kisah si balita ini,

saya harap teman-teman cepat bertindak jika terjadi sakit kepada anak-anak atau keluarga tercinta, jika bisa segeralah pinjam uang untuk biaya perobatan, uang bisa dicari sedangkan nyawa tidak dapat dibeli kembali.

2 POST COMMENT

Send Us A Message Here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

2 Comments
  • December 18, 2014

    Sungguh tragis sekali keadaan rumah sakit di negeri ini, dari segi pelayanan,peralatan,dan kaulitas SDM yang buruk…..seperttinya negeri ini subur dengan mal praktek

    iwan saragih
    Reply
    • December 18, 2014

      iya, kasihan sekali bang, hati2 bang kalo ada anak2 yg saki jgn dibiarkan berlarut larut

      senangpoker
      Reply